Chat with Zara

Semua tulisan di blog ini adalah milik Zara Zettira ZR, dilarang menggandakan tanpa seizin penulis. Untuk isi iklan dan widget yang digunakan dalam blog bukan merupakan tanggung jawab penulis.
Ketik nama di kolom join chat, kalau jodoh ya bisa ketemu dengan Mbak Zara. Kalau belum ketemu tidak apa-apa, tunggu jadwal chat online bareng nanti ya.

Kamis, 24 September 2009

4 MUSIM, 86 PURNAMA, 1 CINTA (Bagian 8 - TAMAT)

Sekelumit kisah bagian 7

“Si…siapa nama pria itu?” tanyaku getir.
“Made. Warga Negara Indonesia yang masuk ke Kanada dengan visa turis. Menurut pengakuannya, dia masih menyimpan cintanya pada anda. Dia tidak pernah berhenti mencintai Anda. Bertahun tahun ia hidup dalam penderitaan dan kemarahan. Kecemburuan melihat kebahagiaan ibu dan keluarga ibu. Lalu dihabiskannya semua tabungannya untuk menemui ibu dan mencoba mengakhiri hidup suami ibu. Made mengaku berniat membunuh Evan, suami ibu. Tapi tembakannya salah sasaran karena kehadiran Sofie”
“Tidak…tidak mungkin… tidak mungkin!” desisku perlahan dengan segala sisa kekuatan yang masih ada. Made, teman kuliahku dari Denpasar itu mencintaiku? Sejak kapan? Dia tak pernah bilang apa-apa. Tak juga pernah sekalipun menunjukkan sikap khusus padaku untuk menyiratkan isi hatinya.

======================================


Apakah ini semua salahku? Salahkah aku kalau aku tak bisa lagi menjaga penampilanku seperti dulu? Salahkah aku yang mengabdikan semua waktuku untuk mengurus keluargaku? Salahkah aku kalau penyakit arteritis merayapi dan menggerogoti kesehatanku? Salahkah aku Tuhan, kalau aku bukan lagi Ira yang dulu membuat Evan tergila - gila? Ira yang dulu membuat Evan rela menyeberangi samudra dan meninggalkan tanah airnya untuk hidup bersamaku. Salahkah aku yang karena cinta rela meninggalkan tanah airku?

Baca kelanjutannya di sini (Bagian terakhir alias TAMAT)


4 MUSIM, 86 PURNAMA, 1 CINTA (Bagian 8 - TAMAT)

Posted using ShareThis

Senin, 10 Agustus 2009

4 MUSIM, 86 PURNAMA, 1 CINTA (Bagian 7)

Sekelumit kisah bagian 6

Aku tak bisa bereaksi. Hatiku nyeri, bibir dan lidahku kelu. Aku bahkan tak lagi berniat menatap Evan. Kalau perlu ingin rasanya kuusir pengkhianat itu keluar. Bertahun - tahun aku hidup dalam kebohongan. Bertahun - tahun kuanggap dia pahlawan kekeluarga. Kuserahkan jiwa dan ragaku untuknya. Kuabdikan seluruh hidupku padanya. Bahkan kutinggalkan tanah airku karena cinta. Karena sumpah perkawinan yang kami ikrarkan bersama - sama dua belas tahun lalu di sebuah pura kecil di Lovina. Sumpah yang sekarang telah dia nodai hanya karena tergoda seketaris muda dan cantik. Karena Sofie. Aku yakin Sofie telah menceritakan semua pada Evan. Begitu mudahnya. Begitu kecil arti sumpah pernikahan itu baginya ternyata.

===================================

Teka teki ini bukannya makin jelas tapi justru semakin tak jelas juntrungannya. Made? Teman kuliahku? Di Kanada? Setahuku dia ada di Indonesia, bekerja disebuah kantor arsitek di Denpasar. Sudah sekian lama aku tak berhubungan langsung lagi dengannya. Kami hanya bertukar email sesekali. Mungkin hanya sebulan sekali. Dalam emailnyapun ia tak banyak bercerita. Sekedar silaturahmi menjaga hubungan baik saja, karena aku menitipkan rumah dan tanahku yang masih tersisa di Bali padanya. Untuk ditengoki dan dirawat. Hanya sebatas itu hubungan kami. 

Baca kelanjutannya di sini

4 MUSIM, 86 PURNAMA, 1 CINTA (Bagian 7)


Posted using ShareThis

Selasa, 04 Agustus 2009

Catatan di Usia 40 :)

Singkat aja. Keinginan kita semua - manusia- kan intinya sama. Sehat walafiat, panjang umur, murah rejeki, murah jodoh yang semuanya sebetulnya hanya punya 1 makna yaitu : INGIN BAHAGIA.

Tetapi kebahagiaan kita itu kadang sifatnya selfish...maksudnya begini : kita merasa bahagia kalau semua keinginan / rencana kita terwujud/kita dapatkan. Kalau gagal atau merasa kecewa lantas tidak bahagia lagi.

Menyederhanakan kebahagiaan adalah hal yang sangat sulit karena menyangkut meredam/mengontrol keinginan yang teramat sangat sulit juga mengingat kita semua lahir dengan hasrat sehingga keinginan itu adalah bagian dari diri manusia.

Almarhum papa saya pernah bilang kalau angka usia 40 itu adalah titik baliknya manusia. Kata beliau, rata-rata usia hidup manusia itu 80 tahun (ada yg lebih dari itu baru meninggal ada juga yang kurang dari itu sudah meningal, jadi 80 dianggap rata 2 /average aja maksudnya :) Maka angka 40 ada di pertengahan. Saya masih ingat betul waktu itu saya tidak paham maksudnya. tetapi perkataan itu saya simpan seumur hidup saya, dan sekarang saya mengerti setelah saya menjalani yang 40 tahun itu.

Bahwasannya bab pertama hidup kita isinya adalah pembelajaran. Separuh lagi barulah hidup dalam arti kata yang sebenarnya. Separuh pertama usia hidup kita sebetulnya belajar memaknai hidup kita sendiri, agar separuh lagi dari hidup kita , kita bisa berkarya berdharma menyumbangkan apa yang sudah kita pelajari di separuh pertama hidup itu pada sesama (terutama yang lebih muda usianya)

Zara, insyallah akan berusaha menjaga jiwa tetap muda. Agar tetap bisa berkomunikasi dengan pembaca dan teman-teman yang masih muda muda bahkan ABG hi..hi.. Abg yang kenal Zara dari mamanya (mamanya seangkatan aku maksudnya lol) Dan cara Zara berbagi pengalaman hidup adalah dengan menggunakan talenta yang diberikan Allah pada Zara, yaitu : menulis. Insyallah pembaca bukan hanya membaca apa yang tersurat dalam karya-karya Zara tapi juga meresapi makna yang tersirat di dalamnya. Makna kehidupan yang sulit di uraikan dengan kata-kata manusia, tetapi bisa di ilustrasikan melalui jalinan cerita.

Bahwa dalam separuh pertama hidup Zara (dan kita semua) ada banyak pergumulan, penderitaan dan pengorbanan, semua itulah yang justru akan memperkaya ilmu kita. Ilmu menghadapi dan menyiasati kehidupan agar di separuh usia berikutnya kita insyallah bisa lebih matang dan menikmati HIDUP ITU SENDIRI (tidak trial error lagi maksudnya udah tau apa yg harus dilakukan kalo masalah-masalah datang)

Ulang tahun ke 40 ini menjadi spesial karena bertepatan dengan malam Bulan Purnama.

Terima kasih buat semua yang mengucapkan dan mendoakan Zara, yang nda bisa aku sebutkan satu persatu saking banyaknya. I believe in love...and love is what keeps us together. No matter how far away I am from my Tanah Air...my sahabat sebangsa... we are still looking at the same sun, moon and stars, ya kan? Jauh dimata dekat di hati. Jadi ijinkan Zara menyapa kalian semua lewat tulisan-tulisan Zara agar sampai di hati teman-teman semua...

Perjalanan belum selesai, dan tak akan pernah selesai karena tidak ada manusia yang sempurna :) Jadi aku juga biar udah 40 masih terus belajar. Menambah ilmu bathin agar semakin panjang sabarnya dan tak bersyarat ikhlasnya. Semakin jauh kita dari hasrat nafsu keinginan duniawi semakin dekat kita dengan Sang Pencipta.

Amin
Zara
Caledon, ON
Canada



4 MUSIM, 86 PURNAMA, 1 CINTA (Bagian 6)

Sekelumit kisah bagian 5

Dan kalau betul perselingkuhan itu ada, kalau analisa detektif Nancy benar, maka Sofie-lah yang telah menyakiti Enya secara tidak sengaja. Membunuh Zenon untuk mencoba membunuhku, lantaran rasa cemburu dan ingin memiliki Evan. Perselingkuhan itu telah membuatnya serakah dan tak cukup lagi memuaskan hatinya. Ia ingin merenggut Evan dariku, dari keluarganya. Ia ingin memiliki Evan untuk dirinya sendiri. Dan malam itu, sehabis meneguk beberapa minuman beralkohol di pesta, ia tak bisa menguasai perasaannya lagi. Ia mengikuti Evan kerumah, membidikkan pistolnya pada Zenon untuk membungkam anjing penjaga kami itu. Kemudian pengaruh alkohol itu juga yang mungkin membuatnya keliru membidik sasaran. Enya yang memang sangat mirip denganku jadi korban . Padahal yang sesungguhnya ingin dienyahkan oleh Sofie adalah diriku!

===========================

Matahari musim panas tak malu-malu menyinarkan teriknya ke tengah taman kota. Saat mencari parkir di pusat kota, baru kusdadari, betapa lamanya aku tak menyentuh daerah perkotaan ini. Daerah yang disebut “down town” , dipenuhi gedung-gedung pencakar langit. Jalanannya sempit dan kecil dengan arus lalu lintas yang padat. Mirip Jakarta dan kemacetannya. Mencari tempat parkirpun sulit dan kalaupun ada harus membayar cukup mahal. Lima belas dollar minimum untuk lima jam atau kira kira ekuivalen dengan sekitar seratus duapuluh ribu rupiah. 

Sejak gejala arteritis mulai menganggu kerangka tubuhku, aku jarang meluangkan waktu mendatangi pusat kota dimana kantor Evan berada. Aku tak mau menguras persediaan energiku untuk menyetir selama dua jam ke down town Toronto. Lebih dari semua itu, aku enggan mengotori paru-paruku dengan polusi kota besar ini. Bernafaspun rasanya sulit, dada terasa sesak terhimpit oleh bayangan gedung gedung pencakar langit di sekelilingku. Atau mungkin aku sulit bernafas karena pikiran-pikiran dan spekulasi yang memenuhi relung hatiku.

Baca lanjutan kisahnya di link ini

4 MUSIM, 86 PURNAMA, 1 CINTA (Bagian 6)


Posted using ShareThis

Rabu, 29 Juli 2009

Our Live is a Drama Itself....


Sering teman-teman bertanya sama Zara : Mba darimana sih ide-ide nulisnya? :) Jawaban saya biasanya begini: dari kehidupan sehari-hari. Dari yang nyata-nyata aja. Jadi sama sekali bukan muncul dari khayalan atau imajinasi. Kalau pada akhirnya menjadi sebuah fiksi, itu karena saya harus menutupi sebagian realita (yang kurang berkenan bagi yang bersangkutan dan tidak ada manfaatnya untuk diketahui orang lain..:):) 

Kenapa kita menyukai drama. Apakah itu dalam bentuk film, pagelaran teater atau bacaan/novel? Jawabannya sama seperti pertanyaan : mengapa cinta selalu ada dalam setiap karya-karya seni (tulisan, novel, film , lagu bahkan lukisan dan juga AGAMA) Karena drama dan cinta adalah bagian dari hidup kita. Ada dalam diri kita. Sehingga selalu kita tergiring untuk menyukainya. Suka karena ada persamaan dengan diri kita. Hakekat dan intinya sama. Bukankah dua orang yang punya kesamaan biasanya akan lebih mudah berkawan ? Ada ketertarikan dalam dua kesamaan. Organisasi-organisasi umumnya terbentuk sebagai sebuah kesatuan dari orang orang yang punya kesamaan. Demikian halnya sebuah negara dan keluarga, adalah persatuan dari orang-orang yang punya kesamaan.

Hidup adalah bagian dari cinta, demikian sebaliknya, tidak mungkin dipisahkan. Sebab hidup kita tidak ada tanpa Cinta orang tua dan yang terutama adalah Cinta Tuhan sang pencipta. Tidak mungkin Sang Maha menciptakan kita jika tidak dilandasi rasa cinta. Sekalipun misalnya, seorang bayi lahir sebagai hasil dari perkosaan atau hubungan semalam (bukan dari sepasang suami istri) yang tidak diharapkan kehadirannya... di dalam proses kelahiran itu tetap ada Cinta dari yang "memberi" kehidupan. 

Cinta yang serba baik itu pada akhirnya menjadi bumerang, karena banyak kita lihat cinta justru menjadi cikal bakal kebencian, pertengkaran dan permusuhan. penderitaan muncul karena dalih Cinta. Kekasih yang cemburu, tega menyakiti orang yang dicintainya. Dalam banyak kasus kriminal ada istilah Crime of Passion , yaitu kejadian kejadian kriminal (penculikan, pembunuhan, perkosaan, KDRT) yang sebetulnya dikarenakan rasa cinta yang berlebihan. Inilah DRAMA. Drama yang muncul sbagai interaksi antara rasa hakiki itu dengan alam pikiran dan materi (dunia)

Di dalam agama Budha, disebutkan bahwa penderitaan itu datang dari keinginan. Termasuk keinginan untuk 'mencintai' dan 'dicintai". Jadi sebetulnya bukan CINTA yang menjadikan hidup ini menjadi drama yang sedih melainkan "keinginan" kita. Kita yang selalu haus akan Cinta. Mau memberi cinta pada si A, tapi ditolak, akhirya jadi benci, dendam kesumat, Berharap si B mencintai kita (sesuai dengan keinginan kita) tapi tak mendapatkan, akhirnya menderita, 

Ketika CINTA mulai membutuhkan aturan dan "syarat" , ketika itulah cinta menimbulkan problema. Aturan dan syarat-syarat itu muncul dari hasil pemikiran kita. Dan pikiran itu terkontaminasi dengan alam sekitar kita , alam material, jasmaniah. Misalnya, di hampir setiap film-film, seorang pria selalu memberikan bunga atau perhiasan untuk membuktikan kesungguhan cintanya pada si wanita. Maka alam pikiran kitapun akan membentuk (dan menyimpan" MEMORY ADEGAN" itu. Pada saatnya akan membentuk citra/image yang akan membentuk "persayaratan" atau "keinginan" di benak kita. Bahwa kita ingin hubungan romantis kita dengan kekasih berakhir happy ending seperi citra/image yang kita serap dari tontonan film itu. Bahwa kesungguhan cinta dinyatakan dengan bunga dan hadiah (misalnya pada saat melamar ehem ehem..:):) Kemungkinan besar kita akan kecewa jika kemudian kekasih tidak membawa bunga atau perhiasan saat melamar melainkan dengan casual menyatakan niatnya sembari makan bubur ayam di kaki lima. Sungguh tidak romantis! Tidak sesuai dengan keinginan kita! tdak seperti image/citra yang tertanam alam benak kita! Dan karna tidak sesuai maka muncul keraguan dihati kita : Kok gini cara dia melamarku? Jangan jangan dia cuma main main, nda serius? kalo bener serius kenapa nda pake persiapan? bunga kek? Perhiasan kek? 

Itu hanya salah satu contoh saja. Drama dalam kehidupan kita dan kaitannya dengan alam pikiran (harapan, keinginan, syarat) dan kehausan kita akan Cinta yang tak akan pernah selesai sampai kita kembali berpulang pada Sang Maha Mencintai. Bahkan seorang psikopatpun sebetulnya adalah manusia yang sangat haus akan cinta. Namun persyaratan cinta yang mereka miliki sangat berbeda dengan konsep cinta manusia "normal" umumnya. Sehingga mereka digolongkan menjadi "psikopat" karena beda dengan "Mayoritas" kita yang lain. Sungguh saya pribadi sangat berusaha menghindari "label" normal dan tidak normal karena in my humble opinion itu sangat relatif sifatnya. Lebih baik mengatakan "tidak umum" daripada "tidak normal" :):)

Kalau wanita HAUS akan cinta selama menjalani hidupnya, itu juga wajar. Karena kita datang dari cinta YANG MAHA BESAR (cinta Illahi). Wajar kalau di dunia kita selalu mencari cinta, mengumpulkan cinta sebanyak-banyaknya dan wajar pula kalau kita sering tidak puas dengan cinta yang ada dan kita miliki, sebab pada hakikatnya tidak ada yang bisa MENYAMAI apalagi MELEBIHI Cinta sang Maha Pencipta... darimana kita datang (asal kita). 

Maka saat seseorang meninggal sering ditulis begini: Telah Meninggal DENGAN TENANG atau BERISTRAHAT DENGAN TENANG. Tenang karena sudah tidak lagi bergumul dengan DRAMA . Sudah tidak lagi haus akan Cinta, Sudah menemukan Cinta yang dicari, yang melimpah . Sudah kembali ke yang Maha Mencintai. 

Hidup dengan CINTA yang tak bersyarat , yang hanya memberi tak mengharap balasan sangatlah sulit. Bahan nyaris tidak mungkin :) Yang ada hanyalah berusaha mengontrol seminimal mungkin rasa ingin kita. Ndilalah dengan begitu, drama hidup kita akan jauh dari pergolakan yang mengguncang rasa sedih. Satu hal yang sudah saya coba praktekan adalah : MEMBERI pada saat kita susah (bermasalah). Sungguh ajaib...bagaimana rasa susah/menderita itu jadi ringan saat kita (saya) melihat senyum bahagia dari orang yang menerima pemberian saya.... Kebahagiaan orang itu seperti menular, menyusup dalam hati saya lalu meringankan beban masalah yang sedang bertahta di hati saya itu. 

Itulah DRAMA dan CINTA yang senantiasa ingin saya sampaikan (dalam bentuk fiksi) dalam tulisan-tulisan saya. Dunia / hidup sudah teralu padat dengan kesibukan dan masalah. berikanlah ruang dihati kita dan waktu narang sejenak untuk menyepi, membaca dengan tenang dan bergeser sesaat ke sebuah tempat bernama HENING. Pikiran perlu istirahat... dan yang bisa menyuruh sang otak untuk "istirahat sejenak berhenti mikir" hanyalah HATI. Your higher self.

Caledon, ON
Mendung Jagad Raya...



Selasa, 28 Juli 2009

4 MUSIM, 86 PURNAMA, 1 CINTA (Bagian 5)

Sekelumit kisah bagian 4
“Enya..” sapa Edo penuh rasa kangen. Enya menoleh dan tersenyum.
“Papa mana ma?”
“Masih diperjalanan. Papa janji langsung kemari sepulang dari kantor sayang” sahutku.
“Masih sakit kakinya?” tanya Edo lugu.
Enya mengangguk.

“Polisi udah tau siapa yang nembak Enya , ma?” tanya Enya penuh harap.
Aku menggeleng.
“Sekarang belum. Tapi mama yakin, yang salah pasti akan tertangkap dan harus menebus kesalahannya” aku meyakinkan Enya. Entah darimana munculnya kata-kata bijak itu ke dalam benakku. “Ini mama bawain baju tidur kamu”

Enya menatap pakaian untuknya yang kukabawakan dengan traveling bag.
“Enya boleh pinjam baju tidur mama ngga?” pintanya.
“Baju tidur mama?”
Enya mengangguk.
“Supaya Enya tidurnya nyenyak di rumah sakit. Enya mau bobo pake baju mama supaya kalo kangen bisa langsung nyium bau mama dari baju tidur mama…”

===================

Sang detektif wanita yang menangani kasus Enya berdiri di ambang pintu.
“Selamat malam” ia menyapa kami dengan tatapan ramahnya. Lalu ia melangkah memperkenalkan dirinya pada Enya. “Hai Enya, saya Nancy. Bagaimana keadaan kamu?”

“Nancy ini detektif yang menangani kasus kamu, Enya. Dia yang akan menemukan orang yang menembak kamu” aku menjelaskan.

“Hai” Enya membalas sapaan detektif itu dengan senyum.
“Boleh pinjam mamamu sebentar? Saya perlu bicara dengan Anda nyonya Evan,” ujarnya tegas tapi ramah.

Aku mengangguk dan mengikuti Nancy keluar ruangan. 
Di koridor kami berbicara. Wajah Nancy nampak serius tapi tenang. Ia mengeluarkan sebuah foto dari amplop kuning di tangannya. Foto seorang wanita berambut pirang.

“Anda kenal orang ini?” tanyanya.

Baca lanjutannya di sini

4 MUSIM, 86 PURNAMA, 1 CINTA (Bagian 5)


Posted using ShareThis

Minggu, 26 Juli 2009

Keinginan Versus Tujuan

Dalam note-note saya, sering saya menyarankan agar kita (manusia) berusaha mengendalikan "keinginan" kita. Karena pada kenyataannya, sebagian besar problem , kecil ataupun besar, materi maupun emosional, yang kita alami itu lahir dari keinginan. Bahkan kadang keinginan yang tersembunyi , yang kita tidak 'sadari' sebagai manifestasi dari rasa "ingin".

Contoh sederhananya saya alami sendiri sewaktu papa saya meninggal. Saya menangis siang malam bahkan saking sedihnya saya lompat dalam liang galian kubur Papa. Begitu tragis rasa sedih yang saya alami dan begitu besar rasa takut kehilangan Papa dalam diri saya. Tapi setelah momen itu berlalu pelan-pelan dalam hening saya sadari bahwa semua itu bukan rasa sedih atau takut kehilangan melainkan lahir dari sebuah rasa "ingin". Keinginan sayalah yang membuat saya merasa takut dan tidak rela ditinggalkan( sendirian di dunia ini). Keinginan saya adalah : Saya inginnya papa tetap hidup menemani saya. Atau bisa juga saya ingin tetap berdampingan dengan Papa (hiks...)

Tapi sekarang banyak yang menanyakan pada saya (banyak artinya sudah ratusan jumlahnya :) Kalau keinginan itu seringnya menyesatkan, lantas bagaimana kita hidup? Bukankah hidup harus punya keinginan/cita-cita? Pertanyaan ini membuat saya berpikir lagi. Again, dalam hening tentunya. Mana bisa mikir dalam cheos ya? :):)

Agaknya ada kesalah mengertian antara Keinginan dan tujuan. Bukan bahasanya yang salah tapi penggunaannya oleh masing-masing individu. Keinginan versi saya adalah sesuatu yang bersumber dari "rasa" dan sifatnya masih anda-andai. Saya pribadi membedakannya dengan "tujuan". Jadi yang membuat hidup punya arti adalah : Tujuan. Dan yang seringkali memberatkan hidup adalah "keinginan" (menjadi kendala)

Tujuan (sekali lagi, ini versi saya) sifatnya konkrit. Sudah ADA di depan mata. Misalnya bertujuan pergi ke Bandung dari Jakarta. Tujuan membuat kita melakukan aksi/perbuatan untuk mendapatkan atau setidaknya mengarah mendekati. Dengan kata lain tujuan itu LAHIR karena kita sudah TAHU dimana kita berada. Kalau kita belum tahu di mana kita berada ( di JakartaBogor sih sebenernya posisi kita?) itu artinya kita masih NYASAR. Jadi belum bisa membuat tujuan karena belum tahu posisi kita. Tujuan baru bisa muncul kalau kita sudah MENGENAL DIRI kita/posisi kita. Dengan kata lain tujuan ada karena ada alasan kuat.

Keinginan lebih merupakan rasa jadi belum atau bisa jadi sama sekali tidak konkrit. Tidak ada "asal' atau cikal bakalnya. Misalnya saya ingin kawin di usia 25 tahun :):) Saya ingin punya dua anak . Jika pemikiran-pemikiran ini MUNCUL disaat kita masih single...pemikiran itu adalah KEINGINAN. Karena kita artinya belum tau posisi diri kita. Wong masih single kok sudah mau kawin dan punya anak? :):) sementara kalau pemikiran itu muncul di saat kita minimal sudah punya kekasih serius/tunangan pemikiran itu menjadi Tujuan (tujuan bersama dengan sang kekasih tentunya, nda bisa tujuan priobadi karena anak dan pernikahan butuh kesepakatan 2 pihak..:):)

Keinginan juga biasanya overlap terlalu jauuuhhhh prediksinya. Seperti anak-anak balita yang lugu yang ketika ditanya mau jadi apa kalau sudah besar nanti (ini yang nanya juga kebangetan ya hi..hi.. baca aja belum lancar sudah ditanya soal karir LOL intermezo friends...) mereka akan menjawab : kalau besar nanti ingin jadi dokter. Bagi anak kecil ini sah saja..namanya anak kecil. Sedangkan kita yang sudah dewasa, sudah dibekali pengalaman hidup dan kemampuan mencari informasi, tentu tidak bisa lagi senaif itu. Tujuan membutuhkan dasar realita.

Kembali pada pertanyaan teman-teman yang aujubilah banyaknya itu... umumnya berhubungan dengan jodoh dan kepenulisan :) Jadi saya kembalikan pertanyaannya pada diri kalian semua sendiri. pepatah bilang jangan berikan ikan melainkan berikan 'kail' nya :)

Apakah rasa (keinginan/harapan) itu membuat kita frustrasi dan sedih dan bahkan putus asa? Kalau iya, artinya itu keinginan. Dan artinya keinginan itu masih terlalu jauh. Harus dibuat visible. Mundur beberapa langkah. Step by step one at the time. Keinginannya dipecah-pecah dulu menjadi beberapa tujuan dan satu per satu tujuan itu di raih seperti menaiki anak tangga. Naik liftpun kadang harus berhenti di beberapa lantai kan? Kuncinya sabar. (jangan bosen denger kata sabar). Sabar dan pasrah bukan berarti malas dan tidak berusaha. Sabar dan pasrah itu kunci supaya kita tidak frusrasi dan putus asa saat berusaha.

TUJUAn sebaliknya akan membuat kita semangat, bermotivasi seolah-olah kita bekerja tanpa pamrih. giat. Kalau kita lihat para motivator begitu menggebu-gebu semangat di acara-acara seminar. Menerbitkan begitu banyak buku dallam waktu singkat. Luar biasa! Darimana datangnya kekuatan dan energi iyu? Sedangkan kita mau nyelesaikan 10 halaman aja empot empotan :):)

Disitulah bedanya. Mereka yang seperti punya tenaga kuda memiliki TUJUAN. Tujuan melahirkan tekad kuat karena sudah tau kemana arahnya dan sudah tahu asalnya, ada landasannya. Ada alasannya kenapa mereka mengarah ke tujuan itu, atau ibaratnya sudah MANTAP. Hakul yakin. Jadi tidak ada lagi rasa cape di tengah jalan apalagi bimbang "Duh sebenernya saya bisa nda sih?" atau "Duh saya udah ketuaan kali ya?"

Jadi semua ada di dalam hati kita sendiri sendiri. Apakah cita-cita kita itu merupakan tujuan atau keinginan? Apakah kita sering merasa frustrasi , lelah, pesimis di tengah jalan? Kalau iya, artinya keinginan itu terlalu jauh. Beyond your position right now. Atau kurang realitis. bermimpi itu boleh. Gantungkan cita-citamu setinggi langit kata pepatah. TAPI... dalam meraihnya perlu strategi. seperti mau naik ke lantai 20, harus lewat tangga. Bisa juga pake helikopter tapi itupun harus usaha ke landasan helikopternya dulu dan ngecek dulu apa di lantai 20 ada helipad-nya :) intinya semua mau cepat mau lambat TETAP harus ada usaha. Sebelum aksi harus ada analisa agar aksi (yg meliputi waktu dan tenaga) tidak terbuang sia-sia.

Buat breakdown dari keinginan kita. Dan kalau bisa temukan kendala-kendala atau rasa yang menyertainya. Lalu di break down itu keinginan menjadi beberapa tujuan. Misalnya : Mau kawin dengan yang seiman (kok susah bener ya? dapetnya yg beda iman terus hiks hiks..) Kalau di-break down mungkin kira kira begini jadinya:
1. Ikuti kegiatan yang berkaitan dengan iman (agama) kita.
2. Pilih kegiatan yang isinya orang-orang seusia kita ( kalo kita cari jodoh jangan ikut arisan ibu-ibu gitu lho. Maksudnya kecuali kalo ngincer anak salah satu ibu peserta arisan ya boleh juga hi..hi..)
3. Konsisten dan YAKIN dengan tujuan kita itu (ini tujuan karena sudah ada strategi konkrit)
Sisanya hanya sabar. Dan ini baru TUJUAN jangka pendek untuk menemukan "pilihan' yg seiman dengan memasuki ruang lingkup pergaulan orang-orang seiman.

Dari sini nanti dibuat TUJUAN BERIKUT. misalnya sudah ketemu si A yg kira-kira oke, seiman dll dsbnya bikin hati deg degan. Dan seterusnya dan seterusnya step by step. Buatlah tujuan yang serealistis mungkin karena kalau terlalu tinggi/jauh/besar yg ada malah rasa kecewa karena memang sulit meraihnya.

Jadi intinya KEINGINAN adalah CITA CITA yang sah sah saja digantung setinggi langit. Sedangkan untuk meraihnya harus ada TUJUAN. Tujuan-tujuan ini sifatnya lebih jangka pendek. Satu satu, step by step. Untuk mendampingi perjalanan kita meraih tujuan menuju cita-cita ditemani sabar ikhlas dan tawakal. Amin.

Custom Search

ShareThis