Chat with Zara

Semua tulisan di blog ini adalah milik Zara Zettira ZR, dilarang menggandakan tanpa seizin penulis. Untuk isi iklan dan widget yang digunakan dalam blog bukan merupakan tanggung jawab penulis.
Ketik nama di kolom join chat, kalau jodoh ya bisa ketemu dengan Mbak Zara. Kalau belum ketemu tidak apa-apa, tunggu jadwal chat online bareng nanti ya.

Senin, 29 Juni 2009

4 MUSIM, 86 PURNAMA, 1 CINTA

Waktu baru menunjukkan pukul setengah enam pagi, namun matahari di musim panas sudah tak sabar ingin mengintip keluar dari peraduannya. Membangunkan setiap insan di belahan utara benua Amerika ini untuk segera memulai hari barunya. Termasuk aku, Putu Ira Sulastri. Perempuan Indonesia kelahiran Singaraja dari pulau dewata, yang nyasar ke negeri empat musim ini dengan embel embel klise: ikut suami.

Musim panas bukan masalah buat diriku, yang terbiasa bercanda dengan matahari pantai nan terik. Tapi musim-musim lainnya sering terasa terlalu dingin dan brutal untuk tubuh ukuran wanita asia yang minim lemak ini. Tulang kecil, begitu kata almarhum nenekku Ni Ketut. Gampang masuk angin, rentan pada suhu dingin. Musim semi, musim gugur dan terutama musim salju yang kulewati selama lebih dari 86 purnama di Kanada, terasa telah mengikis hampir habis persediaan energiku. 
klik link di bawah untuk melanjutkan kisahnya.

4 MUSIM, 86 PURNAMA, 1 CINTA


Posted using ShareThis

Novel Kebaya Wungu


Sekilas dari Zara
Novel Kebaya Wungu lahir inspirasinya dari nama dan watak karakter Ratu Ayu Kencana Wungu yang menurut diyakini sebagai pelopor emansipasi wanita pada jamannya karena beliau memimpin kerajaan sebesar Majapahit . 

Akan tetapi novel Kebaya Wungu ini sama sekali bukan novel sejarah. Hanya terinsiprasi oleh tokoh sejarah Ratu Ayu Kencana Wungu yang memberikan kesan mendalam dihati Zara. Beliau sebagai perempuan pemberani (termasuk berani memberontak dari norma-norma pada masa nya demi kebenaran keadilan dan kesetiaan pengabdian) . Berani menjadi dirinya sendiri. Berani berkorban untuk orang banyak dan berpegang teguh pada cinta sejati walau harus berjuang keras. Khusus soal perjuangan beliau mendapatkan cinta sejati bisa dilihat dari kisah Minak Jinggo 

Novel ini bercerita tentang fakta dan realita. Bahwasannya nilai-nilai norma masyarakat sudah dan akan terus berubah dari jaman kejaman. Hal yang dulu salah bisa berubah jadi benar. Yang dulu dianggap memalukan sekarang dianggap sudah biasa. Yang dulu tabu sekarang wajar atau malah jadi trend. Semua perubahan norma ini ikut mewarnai perjalanan hidup karakter tokoh wanita "Zainab" di novel ini. Perempuan yang biasa dipanggil "Janna" untuk mengimbangi kemajuan jaman. Nama Zainab yang sebetulnya bagus maknanya dianggap terlalu kuno ditelinga orang moderen. Bahkan kurang komersil dan agak 'ndeso' alias kampungan. Bukan cuma soal nama, Zainab juga terjebak dalam putaran lingkaran tuntutan jaman. Terbelenggu dalam dilemma antara bahagia nyata dan bahagia maya.

Apakah kebahagiaan kita datang saat kita membahagiakan orang lain? Atau bahagia sejati itu hanya milik kita sendiri dan karenanya tidak perlu memikirkan pandangan orang lain? Apakah pilihan kita yang berbeda dengan pilihan kebanyakan orang, artinya kita itu salah? Bahwa benar dan salah itu relatif sifatnya tergantung pada kultur budaya masyarakat yang bersangkutan. Namun tetap ada kebenaran yang hakiki dan sejati yang tidak tergantung pada apapun karena setiap kita telah dilahirkan dengan pengetahuan akan KEBENARAN SEJATI itu. Hanya saja banyak diantara kita yang melupakannya, tidak mau mengakui atau terlalu sibuk untuk memikirkan Kebenaran Sejati.

Biarkan hidup menuntun kita bukan sebaliknya kita ngoyo berusaha menguasai hidup kita. Novel ini memberikan pesan bahwa "anything can happen". Tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini, karena demikianlah dimata Allah sang pencipta kehidupan. Makanya wajar kalau kita sering kaget-kaget dan tidak memahami kehidupan ini. Lantaran kita menghadapinya dengan nalar otak akal pikiran manusia yang terbatas. Sesuatu yang terbatas tidak akan mampu memahami sesuatu yang tak terhingga. 

Pepatah bilang, dalamnya hati itu elebih dalam dari dalamnya samudera. Dengan kata lain, hati itu abstrak karena berbentuk rasa akan tetapi tak terbatas seperti pikiran. Apa yang bagi akal kita tidak mungkin, dimungkinkan oleh hati kita. Dan karena semua itu jangan pernah kita menutup pintu untuk APAPUN, sebab apa yang telah di berikan hidup pada kita adalah bagian dari takdir yang mau tak mau harus kita jalani dan lalui untuk sampai pada tahap kehidupan berikutnya. Pahit manis itu kembangnya kehidupan dan sementara sifatnya. Melangkah terus, hadapi dengan tabah sabar dan yakin kalau di dunia ini tidak ada yang tetap. Semua akan berubah dan berlalu selama dunia ini masih berputar.

Terimakasih pada sahabat-sahabat yang telah berpartisipasi dalam menyempurnakan kehadiran karya Zara ini. Adinda Maharaniku Miranti Serad dan Wisnu Wardhana (fotografer cover) serta semuanya di Synergy Publishing serta yang terutama, suami dan anak-anakku tercinta. Zsolt, Alaya dan Zsoltika. Karya ini merupakan terimakasihku pada sang Pencipta yang telah memberikan anugerah berupa talenta untuk bercerita pada Zara. Insyallah, tulisan Zara bisa menyentuh hati-hati pembaca semua dan membisikkan sedikit angin kedamaian di tengah hidup yang semakin sarat oleh keputus asaan dan ketidak pastian.

Semua pasti berlalu. Tidak ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki apalagi yang tidak terampuni oleh Dia yang Maha Pengasih dan maha Penyayang. Dan karena Dia juga Maha Kuasa maka jangan pernah putus asa karena dalam hidup tidak ada yang tidak mungkin. Bismillahirohmanirhoim. 

Namaste,
Zara Zettira ZR


PRAHARA ASMARA 1 & 2


                 
Introduction
Dalam karya-karya seni baik yang murni maupun yang komersil, kata-kata cinta selalu punya daya jual yang tinggi. Karena semua orang pernah merasakannya dan karena itu cinta menjadi universal sifatnya. Sesuatu yang universal pasti bisa dimengerti dan menyentuh hati semua orang. Tapi makna cinta kemudian menjadi rancu. Menjadi lebih identik dengan benda-benda komersil. Menjadi sebuah objek. Materi. 

Cinta seorang kekasih diungkapkan lewat bunga atau hadiah-hadiah mahal. Semakin tinggi status ekonomi seseorang, semakin mahal pula perwujudan cinta kasih mereka. Yang lebih ironis lagi, cinta bisa membuat orang menderita bahkan bunuh diri. Kontradiktif dengan istilah cinta yang digunakan pada anak manusia alias benih cinta kasih kedua orang tuanya. Apa mungkin cinta bisa punya dua makna yang bertolak belakang? Apa benar cinta membawa kebahagiaan sekaligus juga kemurkaan, dendam dan sakit hati?

Cerita ini adalah kisah kehidupan manusia biasa. Yang bisa terjadi pada siapa saja. Pengalaman dan perjalanan hidup yang bagi kebanyakan orang hanya sekedar dilewati tanpa direnungi maknanya. Di dalamnya ada cinta, ada air mata, ada tawa ada luka. Tak banyak orang menetahui atau mau mengakui sebetulnya hanya cinta yang kita perlukan untuk mengarungi kehidupan ini. Bahwa cinta sebetulnya adalah bentuk dari kebahagiaan dan karenanya tidak memiliki dua arti. Cinta tidak bisa membawa kita pada penderitaan. Tapi kenapa masih banyak orang patah hati? Bahkan seorang anak bisa menjadi durhaka dan membenci orang tuanya. Orang tua juga bisa mengusir dan tidak mau mengaku darah dagingnya lagi. Kenapa semua yang berawal dari cinta bisa berubah jadi angkara murka?

Ndilalah, seandainya cerita ini di baca dengan hati yang terbuka lebar. Dibaca bukan sekedar sebagai rentetan kata-kata belaka, melainkan dengan segenap hati dan rasa. Niscaya kita semua bisa percaya akan kekuatan cinta. Dan bisa menemukan cinta yang sejati, yang sebenarnya. Esensi dari cinta. Bukan cinta yang sekedar kata-kata pemanis atau penglaris produk-produk hiburan. 

Adalah sebuah kehormatan dan penghargaan bagi saya, sebagai penulis, apabila rangkaian kata-kata yang terjalin dalam cerita di buku ini, bisa memberikan ketegaran bagi yang sedang menghadapi masalah. Harapan bagi yag sedang frustrasi. Kebenaran dan pencerahan bagi yang sedang bingung memilih langkah. Kelegaan bagi yang sedang menyesali perbuatannya. Singkat kata, setiap kata yang digoreskan dalam lembar-lembar buku ini, memiliki kedalaman makna yang kadang tak tertangkap oleh mata kita. Hanya dengan hati makna itu bisa kita rasakan. Tanpa itu semua, buku ini hanya akan jadi koleksi perpustakaan pribadi atau penghuni laci berteman dengan debu. 
  
Akhir kata, saya memohon waktu dari pembaca agar jangan terburu-buru membaca cerita ini. Jangan buru-buru ingin sampai ke tujuan, karena ingin mengetahui akhir dari cerita ini. Sebab hidup juga tidak bisa kita buru-buru. Semua terjadi bila memang sudah waktunya. Semua memerlukan proses. Seperti padi di sawah yang sabar menunggu dikubangan Lumpur dan sengatan matahari sampai bijinya menjadi bernas dan menjadi berguna bagi manusia. Sesuatu yang berguna memerlukan kesabaran, waktu dan proses. Sesuatu yang terlalu cepat kita dapatkan tidak akan memberikan kepuasan, melainkan hanya mendatangkan keinginan-keingnan berikutnya yang tak ada habisnya.

Ketika menyelesaikan buku ini, saya harap ada cinta mengisi hati kita semua. Cinta dalam pengertian yang sebenarnya. Cinta kasih yang hanya memberikan kekuatan, kepasrahan, kesabaran tanpa batas dan akhirnya kebahagiaan pada kita semua. Dan mudah-mudahan suatu hari nanti, kita semua bisa percaya pada kekuatan cinta yang maha dashyat ini. Sehingga tak ada lagi orang bunuh diri dan saling membenci karena cinta. Tak ada lagi perang dan saling menyakiti satu sama lain, karena semua berasaskan pada cinta. Melalui tulisan saya berusaha menyentuh satu hati demi satu hati. Sebatas kemampuan saya. Tanpa ambisi tanpa niat untuk buru-buru apalagi untuk mengkomersialkan cinta. Semoga ketulusan ini terpancar dalam cerita ini.
I believe in love, I really do
Zara Zettira ZR
BUKU: PRAHARA ASMARA 1 & 2
PENERBIT: AKOER
TERBIT: Maret 2009




Minggu, 28 Juni 2009

Kemiripan, kesamaan, persamaan


KEBAYA WUNGU satu lagi perjalanan hidup yang membuktikan
bahwa kita semua SAMA dan status kita di dunia ini hanya ILUSI
Cuplikan email dr seorang teman (pembaca) saya:

Dear mbak Zara,
Mbakku sayang.... aku mau curhat dikit neh...
Aku baru kelar baca buku every silent...nya mbak Zara... belinya udah lama, tapi belom sempet dibaca mbak....
baru minggu ini selesai bacanya....hihi susahnya cari waktu buat baca ....hehe dah basi yah...?
Aku wondering, apa cerita itu bener2 pengalaman hidup mbak Zara ya...? atau ada bumbu2nya...? hehe
Soalnya aku amaze banget.... kok mirip sama cerita hidupku lho mbak....


Jujur, sebagai penulis rasanya luar biasa "aminnn" mendapatkan email seperti ini. Aku jawab : Lebih baik bukuku hanya laku 10 tapi semua pembacanya menangkap makna tersirat daripada laku 10 ribu copy tapi hanya dibaca sebagai kisah tersurat belaka:)

Jujur, ini bukan email pertama yang mengatakan seperti itu. Yang melihat KESAMAAN antara inti novel2 ku dengan kisah perjalanan hidup mereka. Karena pada hakekatnya perjalanan / inti kehidupan setiap kita adalah SAMA. Makanya sering aku heran melihat begitu banyak goro-goro/keriwehan/pertikaian gara-gara "perbedaan". Yang beda kan hanya "pakaiannya" alias bungkusannya saja. Segala ilusi yang terlihat oleh mata raga kita saja. Seperti buah apel yg warnanya merah - itu ilusi - karena sesungguhnya warna apel bisa apa saja selain "merah" yg klihatan oleh mata kita ini. MERAH itu ilusi karna gabungan spektrum cahaya yg membuat mata kita menangkapnya sebagai 'merah'.

Di usia yang sudah hampir 40 tahun ini telah begitu banyak yang seseorang alami (termasuk saya) Dan buat saya pribadi ini adalah titik balik. Kalau dulu saat muda kita terus 'meminta', haus dan mencari-cari sesuatu tuk "menjadi', sekarang sebaliknya. Bahasa Inggrisnya down the hill :) turun gunung. Bukan lagi meminta tapi memberi. Meminta hanya dalam doa karena Tuhan itu Maha Memberi. Meminta pada Nya adalah menyenangkan hati Nya. Sedangkan pada sesama, yg saya yakini, dalah asas memberi-menerima. balance. Harmony. Jadi dengan memberi sesungguhnya kita menerima juga.

Sekarang ini, dalam setiap tulisan, niat saya adalah MEMBERI, berbagi - sharing. Bukan mengajak berkhayal lagi seperti jaman Catatan Si Boy dulu :) Dan apa yang saya coba berikan itu terkandung sbagai makna 'tersirat' (read between the line) atau "meaning" atau "makna". Kalau kemasannya fiksi itu hanya sekedar membuat pembaca betah membacanya. Karena saya sendiri termasuk orang yang kurang sreg sama teori teori step by step :) Lebih dalam rasanya kalau kita terbawa dalam alur cerita...masuk ke dimensi baru..keluar dari dimensi ilusi (realita) dan menemukan sebuah tempat baru. Yg tenang, yang tidak terkontimnasi oleh paradigma2 asumsi2 dunia nyata.

Di dalam situlah ada KESAMAAN dalam hidup. Bahwa semua kita ini melewati 3 tahap yang sama LAHIR - Hidup - MATI. Yang mengawali dan mengakhiri Hidup itu adalah sama, yaitu Tuha, Gusti Allah, God, Allah atau apapun bahasa kita menyebut Nya. Hidup itu penuh warna berbeda versi tapi tetap sama. Apa ada manusia yang tidak pernah menderita? Yang tidak pernah sakit? yang tidak punya problem?

Pangeran William sekalipun atau Lady Diana yang memiliki segalanya, punya problem. bahkan lebih berat dari problem si Suhir, office boy yang gajinya cuma tujuh ratus ribu sebulan. Problem selalu ada hanya bentuknya berbeda. Dan kita cenderung menganggap problem kita lah yang terberat. Karna tidak bisa kita 'merasakan' penderitaan orang lain:) yg kita rasakan adalah problem kita sendiri.

Pada saat membaca pesan tersirat dalam novel saya - pada saat itulah kita melihat KESAMAAN. dan itu adalah titik balik yang (buat saya pribadi) sangat penting. Momentum. Saat kita bisa menempatkan diri kita di posisi orang lain (dalam hal ini penderitaan/problem dari tokoh dalam novel/fiksi) pada saat itulah kita punya EMPATHY. Rasa kesetia kawanan toleransi, sepenanggungan - rasa KASIH. Compassion. Pada saat itu kita BERHENTI mengasihani diri sendiri, sebaliknya mengasihi orang lain. Dan kita akan terkejut sendiri, betapa 'satisfying' (memuaskan) nya perbuatan "memberi kasih' itu!

Ibaratnya, kalau saya mampu memberikan 1 miliar sama orang lain, RASA BAHAGIA/Kepuasan saya akan LEBIH daripada kalau saya diberikan 1 miliar! Tapi tentunya untuk bisa memberikan 1 miliar pda orang, kita kan harus kerja keras mencari 1 miliar itu dulu baru bisa memberi , kan logkanya gitu?

Pada saat kita BEKERJA dengan tujuan MEMBERI... kerja itu tidak akan terasa melelahan. tiak merasa diperbudak kita oleh kerja. Itu yang saya rasakan saat menulis, saat saya berniat sharing/memberi pada pembaca. Persembahan itu sendiri maknanya adalah :memberikan sesuatu yang istimewa pada yang kita tinggikan. (Misalnya rakyat memebrikan persembahan pada raja atau umat mempersmbahkan doa pada Tuhan) Jadi posisi teman teman pembaca buat saya adalah "yang saya tinggikan'.

Tentu saja sebagai manusia yang tangannya hanya 2, tidak mungkin aku membaas satu persatu semua email /surat yang masuk. Tapi ada beberapa yang datang pada saat yang tepat (timing buat saya adalah takdir... jodoh) yang saya tanggapi sebisa saya. Sampai yang di tolong terheran2 sendiri... "Mba saya nggak nyangka mbak sampe bantuin saya nulis skripsi begini!" . Adalagi yang aku bawakan titipan buat orang tuanya ke Bali :) Apapun...selama waktunya tepat itu adalah takdir. Bahwa pada saat saya BISA, saya harus melakukan / menolong sebagai perpanjangan tangan Nya. Dan pada saat saya TIDAK BISA berarti akan datang pertolongan dari orang lain... (amin)

Belakangan ini begitu banyak pertikaian terjadi atas nama PERBEDAAN. Begitu banyaknya partai dan caleg adalah salah satu nya :) (intermezo aja ni ya...) Semua caleg menciptakan janji2 yg berusaha MEMBEDAKAN dirinya dengan yg lain. Kenapa? Bukankah sebetulnya semua caleg/calon pemimpin punya NIAT YANG SAMA? Untuk mensejahtrakan rakyatnya? :):) Kok yang di ungkit malah perbedaan2 visi nya? Karena yang satu mau kelihatan lebih cerdas lebih baik drpd yang lain.

Bayangkan jika semua KEKUATAN KECERDASAN para calon pemimpin itu DISATUKAN! Energy mereka di gunakan 100% untuk rakyat dan negara...bbukan digunakan sebagian untuk menjatuhkan yang lain. Seperto politik devide et emprea jaman Belanda saja jadinya. parahnya dilakukan oleh sudara setanah air sendiri:) dulu BERSATU untuk MERDEKA skarang sudah merdeka berpecah belah dalam kubu2 partai sendiri :) Ironis ya?

Tapi itulah politik . bukan bidang saya...:) bidang saya adalah membimbing anak2...adik-adik, teman-teman yang lelah mencari. Sharing melalui tulisan (kebisaan saya). Seperti ada teman yang suka masak, dia sharing lewat masakannya. Ada yang pandai berogranisasi, dia share dengan membuat event2... Intinya sama : Mengandalkan KESAMAAN kita sebagai manusia. Sebagai saudara satu species, saudara setanah air. Tuhan tidak sembarangan atau asal2 an menempatkan (melahirkan) saya di bumu Nusantara..dan kita semua dipilihkan tanah gemah ripah loh jinawi ini PASTI ada maksud Nya. Maksud Nya itu SAMA... untuk kebaikan.

Saya ucapkan terimakasih pada pembaca yang menemukan sesuatu yang lebih dr sekedar cerita seru dalam tulisan2 saya. udah ya, lagi terharu dulu nih...:)

Menulis ala Zara

Catatan ini maunya menjawab pertanyaan dan permintaan banyak teman-teman di Facebook yang mengenal Zara sebagai penulis. Juga yang menanyakan kiat-kiat serta ingin belajar dari Zara. Trimakasih ya...atas semua itu. Zara tersanjung kalo dianggap penulis senior karna secara umur yang udah 40 tahun memang bisa dikategorikan 'senior' alias manula hi..hi..

Agar semua tahu, kalau sejak kecil Zara tidak pernah bercita-cita jadi penulis. Orang tua juga tidak berangan-angan anaknya jadi penulis. Karena penulis kan identik dengan seniman. Dari jaman dulu bahkan sampai sekarang, mungkin sulit membayangkan menulis itu sebagai pekerjaan tetap sumber nafkah. CIta-cita Zara sejak umur 9 , jaman masih main boneka dan masak2an, hanya ingin punya anak. Punya anak yang bisa diurusin, diajak main dan juga membutuhkan Zara. Semua orang butuh rasa "dibutuhkan". Setelah agak gedean Zara baru sadar kalau tuk punya anak artinyab harus menikah hi..hi.. Jadi sejak kecil untuk kompensasi sbelum bisa punya anak Zara pelihara sahabat berkaki empat (kucing dan anjing) menyalurkan naluri 'ngemong' itu.

Kalau akhirnya Zara jadi penulis sungguh itu secara kebetulan saja. Hampir semua teman yang Zara kenal, punya catatan harian. Zara juga. Bedanya, catatan harian temen-temen sehari satu lembar, catatan Zara sehari bisa 10 lembar saking detailnya diary itu. Dan daya ingat Zara juga katanya sangat luar biasa. Bisa jadi karena IQ yang waktu SD diukur angkanya 159 bisa jadi juga karena memang bawaan watak Zara yang kalau melihat sesuatu/peristiwa itu sangat detail. Banyak dan sering hal-hal yang orang lain tidak menangkapnya dari suatu kejadian, Zara malah hafal sampai ke detail-detailnya. Sampai sering Zara di olok-olok "tukang nyimpen useless memory". Karna menurut sebagian teman, apa yang Zara rekam dan perhatikan itu nda penting. Tapi itulah Zara. Kan tiap manusia beda-beda ya.

Pertama menulis di majalah Bimba kelas 4 SD. Ada rubrik pengalamanku. Isi tulisan ya sperti diary. Dimuat, dapet hadiah tas dan kotak pinsil. Senengnya setengah mati. Tapi tetep belum ada rasa ingin jadi penulis. Sampai kemudian membaca cerpen di majalah Anita Cemerlang kelas 5 dan 6 SD. Majalah Anita pertama yang Zara baca kbetulan ada lomba cipta cerpen nya. Setelah membaca beberapa cerpen (untuk pertama kali baca Anita) Zara merasa bisa nulis cerpen juga. Bedanya cerpen sama diary hanya di dialog. Lalu sejak itu diary2 Zarapun lengkap dengan dialog otentik he..he.. Dan salah satunya Zara kirim ikut lomba dan menang. Sampai Mbak Emmy dari Majalah Anita datang kerumah skedar memastikan kalau betul cerpen itu dibuat oleh anak kels 6 SD. Setelah menangpun blum ada rasa ingin jadi penulis. Tapi mbak mbak dan mas mas di Anita sering menghubungi memberi semangat dan meminta karya-karya ceropen Zara lainnya.

Tahun 1985 Zara malah ikut lomba Putri Remaja Indonesia dan cover-cover majalah :) Itupun karna ajakan temen yang hoby motret. Jadi yang semangat malah tukang potretnya. ALhamdulilah menang terus sampe Putri Kampus tahun 1989, none Jakarte Puisat favort 1988 dan beberapa lagi. Dari semua ajang lomba-lomba itu Zara mengenal banyak penulis dan wartawan. Yang paling berkesan adalah Mbak Dewi Dewo dari Gadis dan Mas Bens Leo. Zara besar dalam lingkungan Femina-Gadis. Waktu libur sekolah Zara diajak magang jadi wartawan dan penulis free lance. Di situ baru Zara merasa menemukan ENJOYMENT sebagai penulis. Bahwa Zara benar benar menikmatinya. Dan, bahwa jadi penulis itu bukan skedar seniman tapi bisa dijadikan pekerjaan/nafkah. Dengan keyakinan itu juga Zara meyakinkan orang tua. Sembari meneruskan kuliah di Psikologi UI (dapet sipenmaru soalnya, sayang kan? LOL) Zara magang di majalah, jadi wartawan, jadi copy writer di beberapa advertising advertising Jakarta. Jadi pagi kuliah, siang ngantor, malam nulis.

Tidak ada beban sama sekali. Nyaris juga nda ada hambatan saat Zara menjalankan semua itu. Karena mengerjakannya dengan ENJOY. Menikmati. Senang hati. Tidak ada kata "deadline' yg bikin stress. Walau deadline itu ada, dikamus Zara nda ada. Karena begitu mulai nulis memang maunya ngelarin ampai tuntas. Jauh sbelum deadlinepun sudah selesai :) I really love writing because I love to read. I rad everything mulai koran, majalah, buku sampai wajah orang dan peristiwa:) Semua yang kelihatan oleh mata itu bisa DIBACA jadi bukan hanya buku saja :) Menulis membuat hidup Zara jadi BERARTI, itu yang terpenting. Efeknya mirip orang meditasi. Yang fokus dalam melakukannya dan terasa HAPPY LUAR BIASA setelah selesai.

Tidak ada beban karena Zara jarang punya target. Barangkali aneh kedengarannya. Tapi biaanya kalau ada waktu Zara duduk dan nulis. Kadang note pendek sperti di facebook ini. Kadang diary yang bisa 10 halaman. Kadang cuplikan cerita/periwtiwa yang berkesan. Kadang panjang sperti novel sampai ratusan halaman :) Tergantung mood. Dan semua hanya Zara simpan. Kalau kebertulan ada yang meminta naskah Zara, dan kebetulan Zara ada naskah yang tepat...Zara berikan. Beberapa teman penerbit di Facebook bisa jadi saksinya :) Karena itu buku Zara tidak hanya diterbikan oleh SATU PENERBIT tapi oleh banyak penerbit yang berbeda beda. Siapa saja yang datang kalau memang Zara ada naskah akan Zara sambut (insyallah).

Kembali ke soal belajar nulis dari Zara... aduhhh ibaratnya, mana bisa kita mengajar kalau kita nda pernah belajar :):) Bukan mencari alasan untuk tidak berbagi, tapi jujur Zara nda PD untuk ngajar atau kasi kiat2 soal menulis karna Zara sendiri nda ada kiat sama sekali. Ya nulis aja...sperti si Mbok yang tiap hari belanja ke pasar tanpa catatan belanjaan. Nalurinya aja yang menentukan apakah akan masak sayur asem atau sop buntut hari itu. Kalau ada seikat bayam kelihatan segar, maka si Mbok akan membuat sayur bening bayem. Kalau ada ikan yang juga kelihatan masih segar, si mbok akan menyajikan ikan balado buat Zara :):)

Hanya satu pesan Zara - berdasarkan apa yang Zara alami - KNOW what you like. Tanpa rasa 'enjoy' nda ada satu pekerjaanpun yang menyenangkan. Malah akan menjadi stress. Kan banyak ibu-ibu yang stress kena syndrom baby blues segala setelah punya anak. That did not happen to me. Karna Zara tau sejak dini...bahwa punya anak adalah sesuatu yang Zara nikmati (sudah latihan sama hewan2 peliharaan hi..hi..jadi udah mantep kuat mental) Kalau sudah tau what you like, baru bisa membuat tujuan what you Want. Dan insyallah jalan ke tujuan itu terasa lapang tanpa beban. Dalam hal menulis, misalnya, tak ada target atau rasa kesal saat tulisan ditolak media, atau stress kala deadline. Those should not happen if you enjoy doing things. Sepertik anak Zara yang hobby berenang... biar hujan lebat, biar kelelep di kolam berkali-kali... tetep aja dia berenang. Because he really ENJOY it.

Mudah-mudahan sedikit banyak catatan ini membantu temen temen semua mengenali dirinya masing-masing lagi. Pernah ada satu teman lama yang kekeh sumekeh mau jadi penulis. Tapi akhirnya setelah marah-marah sama Zara (karena Zara nda bisa ngajarin/bim,bing dia gitu...:))) dia muncul lagi dan bilang : "Trimakasih kamu udah nyadarin saya. Bahwa sebenernya saya ingin nulis karna pingin ngetop kaya kamu doang. Padahal saya ngga enjoy. Dan skarang saya udah menemukan apa yang bener-bener saya enjoy...saya nikmati"

Teman saya itu sekarang sudah jadi PEJABAT di kepolisian dengan posisi yang lumayan bagus :) Bayangkan kalau dia nda mau memikirkan ulang keinginan/cita-citanya jadi penulis. Betapa sia-sia rahmat dan takdir yang sudah diatur Tuhan untuk teman saya itu.

Disudahi dulu ya... karna mau buat lemari buat anakku :) Yes..I enjoy it. Making something out of nothing :):)

Namaste,
Zara


Custom Search

ShareThis