Chat with Zara

Semua tulisan di blog ini adalah milik Zara Zettira ZR, dilarang menggandakan tanpa seizin penulis. Untuk isi iklan dan widget yang digunakan dalam blog bukan merupakan tanggung jawab penulis.
Ketik nama di kolom join chat, kalau jodoh ya bisa ketemu dengan Mbak Zara. Kalau belum ketemu tidak apa-apa, tunggu jadwal chat online bareng nanti ya.

Jumat, 03 September 2010

Sembari Macet di Bulan Puasa

Tidak seperti biasanya, bulan puasa kali ini diwarnai banyak hujan. Umumnya bulan suci panas dan terik. Sebenarnya kita harus bersyukur karena cuaca yang mendung dan sejuk mempermudah ibadah kita. Mengurangi rasa tidak nyaman disengat terik panas matahari.

Tapi yang terjadi di Jakarta justru sebaliknya. Orang-orang pada jengkel lantaran hujan turun hampir tiap hari. Lebat pula. Padahal seharusnya ini udah masuk musim panas alias kemarau. Pasalnya begitu hujan turun, jalan-jalan di ibukota tercinta ini akan langsung macet. Bahkan tak jarang macet total. Belum lagi genangan banjir di berbagai daerah, ikut memperlambat lajunya arus lalu lintas. Motor-motor yang berhenti untuk berteduh juga memakan sebagian jalan raya sehingga makin sempit saja area jalan yang bisa digunakan.

Hari ini, kebetulan aku ada empat meeting. Meeting pertama di daerah Cideng , kedua di Bunderan Hi, ketiga di Kebayoran Baru Dharmawangsa dan terakhir balik lagi ke Menteng. Menurut perhitungan waktu yang sudah aku antisipasikan, ke-4 meeting itu bisa terkejar dalam sehari, sekalipun dalam keadaan jalan yg macet seperti biasanya. Tapi karena hari ini hujan deras agak lama dan jalanan macet total diluar jam-jam macet yang biasa, maka saya terlambat di 2 meeting. Walaupun bagi sebagian orang di Indonesia sudah kenal budaya jam karet dan memaklumi alasan "macet' di Jakarta, tetap saja ada rasa tidak enak. Sampai 5 menit pertama aku sibuk minta maaf.

Di jalanan, menuju lokasi meeting berikut, jantungku berdebar debar. Karena takut terlambat lagi. Chain reaction. Satu telat yang berikutnya ya otomatis telat juga. Maka akupun mulai gelisah, sok ngatur ngatur jalan pada pak supir, maksudnya sok mau masuk jalan tikus agar terhindar macet.

Supirku , Hasan namanya. Orangnya sabar dan pendiam. Kalau tidak ditanya tidak ngomong dia itu. Hari inipun dia diam saja sampai aku jadinya kesal sendiri, karena dia tidak bereaksi sementara aku panik sendiri. Akhirnya aku tegur dia.

"Pak, bapak lagi puasa ngomong juga apa lagi kesel aja ama saya?" tanyaku. Hasan tetap tidak menjawab sepatah katapun. Aku yang sudah kesel sama macet dan schedule jadi mangkel. Apa maksudnya ini ditanya baik baik kok ndableg membisu. Aksi ngambeg kah?

Ketika aku akan turun di tempat meeting berikutnya, tiba tiba Hasan mengejar, tanpa suara. Dia hanya melambai lambaikan tangannya yang memegang secarik kertas. heran aku dibuatnya.

Kubaca secarik kertas itu dengan penasaran. Di sana tertulis: MOHON MAAF IBU GIGI SAYA BARUSAN KECABUT JADI BELUM BISA BICARA MASIH BERDARAH..

Rupanya seharian Pak Hasan nyetir dengan gigi senat senut . Gigi itupun tidak dicabutnya di dokter gigi melainkan saat menunggu aku di meeting yang pertama. Tapi ia belum sempat menceritakan karena memang belum bisa ngomong. Masih harus menggigit kapas agar gusi berhenti mengeluarkan darah.

Aku jadi malu sendiri. Aku yang sehat walafiat saja panik gara gara macet dan telat meeting. Mungkin juga ada faktor lapar dan dahaga ya namanya juga lagi puasa. Tapi Hasan yang secara fisik bekerja lebih keras daripada aku, masih bisa tenang sekalipun kepalanya cenat cenut habis nyabut gigi secara primitif. Ia tak mengeluh. Bahkan di catatan yang diberikannya itu, Hasan tidak minta ijin pulang cepat. Melainkan ia minta maaf.

Cerita ini sederhana saja sebenarnya. tapi di batin ku sangat mengena. Hal hal kecil yang sering terjadi di sekitar kita, namun lewat dari perhatian kita . Mungkin karena mata batin tak peka lagi. atau mungkin karena kesibukan dan stress yang levelnya suda terlalu tinggi jaman sekarang ini. Sehingga kita hanya punya energi untuk memikirkan diri sendiri.... dan memandang segala sesuatu dari sisi kita sendiri....

Ramadhan 2010

Ass.wr.wb.

Kepada semua teman dan sahabat yang menjalankan ibadah puasa, Zara ucapkan selamat menunaikan dan menjalaninya. Semoga apa yang kita lakukan di bulan suci ini, tidak berakhir setelah Hari Raya, melainkan bisa mendarah daging di hari hari selanjutnya dan membuat kita Insyallah menjadi manusia yang semakin baik dan lebih baik lagi.

Di Ramadhan 2010 ini ada berita duka dan suka yang ingn Zara sampaikan. Agak lama menimbang baik buruknya, tapi setelah beberapa tahun rasanya mantap sudah niat Zara untuk berbagi sebagian kisah hidup pada para sahabat semua. Jika ada satu dan lain hal yang tidak Zara sampaikan, mohon dimengerti, hal itu untuk menjaga perasaan orang orang yang paling Zara kasihi yaitu anak anak serta orang orang yang Zara hormati sampai kapanpun, yaitu orang tua serta ayah dari anak anakku.

Sebagai pribadi, Zara paling menghindari situasi cur-hat dikala susah. Sebisanya, Zara hanya ingin berbagi kebahagiaan. Saat susah biasanya Zara merenung sendiri, kadang menangis, tapi apalah gunanya menceritakan duka lara pada orang lain. Barangkali teori ini salah. akan tetapi itulah aku adanya. Kadang jika ada yang memuji dan melihat hidup seorang Zara itu sempurna, rasanya ingin menangis dan bercerita. alhamdulilah semua bisa Zara sampaikan liwat tulisan dan buku buku Zara. Sebagian diambil dari kisah perjalanan hidup sendir Dan selalu menekankan inti kehidupan : KITA SEMUA SAMA. Karena Zarapun mengalami jatuh bangunnya kehidupan. Suka duka nya. Sama seperti semua teman dan sahabat yang lain hanya beda versi saja. Yang kita rasakan sama.

Singkat kata pernikahanku dengan suami berkebangsaan Kanada sudah berakhir . Secara formil alias keluarnya surat cerai tepatnya 1,5 tahun sudah. Namun pergolakan yang terjadi sudah berjalan bertahun tahun. Dengan niat baik masih mencoba mempertahankannya. akan tetapi takdir berkata lain. Sebagai Muslimah tidak berani Zara meminta cerai . Jadinya menunggu sambil berdoa agar Tuhan memberikan yang terbaik. Kalau bagi sebagian orang diceraikan itu sebuah musibah, jujur saat itu aku mengucap alhamdulilah. Sedih ya sedih karena harus memulai hidup baru dan kehilangan kehidupan yang sudah dijalani selama lebih dari 11 tahun berkeluarga. Akan tetapi YAKIN apapun yang terjadi itu pasti yang terbaik bagi kita. Segalanya tidak aku anggap sebagai cobaan atau ujian melainkan ANUGERAH. bisa saja kita manusia menganggapnya pahit itu karena kita kadang tidak tau apa yang baik bagi kita.

Syukur alhamdulilah sekarang Zara sudah menikah lagi dengan pria berkebangsaan Inggris, seorang guru yang sudah menjadi Mualaf . Dengan kesadaran penuh bahwa jodoh itu ditangan Allah. Dan karenanya tidak banyak berharap selain diberikan kebahagiaan dalam berumahtangga, ketenangan dalam beribadah dan kebebasan dalam beribadah. Insyallah juga sebagai istri mampu membimbing suami untuk lebih mengenal Islam tanpa niat memaksakan kehendak.

Jadi itulah sekilah berita suka duka dari Zara. Ditulis dengan harapan agar semua TAHU kalau aku ini sama dengan kalian semua. Kita semua sama. Ditulis untuk publik karena aku merasa bagian dari kalian semua (teman sahabat pembaca tulisanku) dan menghargai hak kalian semua untuk mengetahui sedikit banyak mengenai aku. Jika ada detail yang tidak bisa akusebutkan. mohon dimaklumi, karena aku bukan lagi milik diriku sendiri melainkan milik anak anakku.... belahan jiwaku.

Custom Search

ShareThis